Selasa, 07 Juli 2020

CURUG SONG



Perkembagan teknologi informasi mengubah perilaku generasi masa lalu dan masa kini. Salah satu hobby yang tumbuh mengiringi kemajuan teknologi ini adalah foto selfi. Ketika bersama dengan orang tertentu atau berada ditempat baru dan istimewa pasti tidak  ketinggalan foto selfie sebagai bukti mereka pernah berada disana. Aktifitas foto selfie ini berimbas pada perkembangan sector pariwisata yaitu munculnya obyek wisata baru bagaikan cendawan dimusim gugur.

Salah satu destinasi wisata yang sedang menggeliat di Kabupaten Banyumas adalah Curug Song. Curug Song terletak di grumbul Kali Otong desa Kalisalak Kecamatan Kebasen. Bisa diakses dari alun-alun  Banyumas naik kearah barat sampai desa Binangun belok kiri menurun sepanjang hutan pinus sampai ke lokasi. Jika dari arah Purwokerto keselatan sampai Patikraja belok kiri menyeberangi jembatan Merah Putih sungai Serayu menuju Kebasen perempatan pasar belok kiri sampai lokasi. Bisa juga menyeberangi bendung gerak Serayu belok kanan sampai Kebasen, akan tetapi  untuk menyeberang hanya bisa  ditempuh dengan kendaraan roda dua.

Jalan menuju lokasi Curug Song bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Kondisi jalan beraspal cukup baik hanya saja jika dari arah Binangun kondisi jalan agak rusak bahkan pada turunan menjelang lokasi rusak parah. Jika ditempuh dari desa Binangun sepanjang jalan melewati hutan pinus yang indah dan banyak lokasi foto selfie di atas bukit dengan latar belakang yang indah.

Potensi wisata desa Kalisalak  memanfaatkan hutan pinus dan air terjun sebagai daya tarik masyarakat terutama kalangan muda-mudi yang sedang haus bagaimana dirinya meng-selfie-kan dirinya. Antusias warganya dalam mengelola curug song ini memang terbukti dengan berbagai fasilitas wisatanya. Biaya yang murah, hanya membayar parkir sebesar Rp 2.000 dan HTM Rp 3.000 kalian bisa menikmati indahnya alam di sisi Banyumas ini. 

Fasilitas pendukung yang disediakan diantaranya sepeda air, flying fox, berkuda, kebun binatang mini, ruang bermain anak, gazebo, selfie deck yang menyerupai perahu dengan background curug Song, dan lain-lain. Tempat parkir cukup luas menampung banyak kendaraan dikelilingi kantin yang menawarkan kuliner khas Banyumas yaitu pecel dan mendoan dengan harga yang cukup murah berjejer sepanjang lokasi wisata,

Karena masih dalam proses berbenah maka masih banyak kendaraan pengangkut materil berlalu lalang. Meskipun demikian antusias warga mengunjungi lokasi wisata ini cukup tinggi terbukti dengan ramainya pengunjung terutama saat liburan. Sementara pengunjung lokasi wisata curug Song masih didominasi wisatawan local. Akan tetapi tidak mustahil akan berkembang jika publikasi digencarkan dan Fasilitas yang disediakan semakin ditingkatkan.

Senin, 29 Juni 2020

KUPAT TAHU



Salah satu kuliner asli Indonesia ini cukup digemari masyarakat. Walaupun sudah muncul makanan pendatang dari negeri lain yang sudah merambah kuliner kita akan tetapi kupat tahu masih bisa bertahan bahkan berani bersaing. Bagi para vegetarian makanan ini sangat cocok karena semua bahan dan bumbu berasal dari tumbuhan  tanpa unsur hewani.

Dulu kupat tahu dijual oleh pedagang kaki lima atau gerobak dorong biasanya buka waktu sore hingga malam hari. Dalam perkembanganya kupat tahu sudah dijual di kios permanen bahkan  menjadi menu khas rumah makan dan cafĂ©. Bahkan ada rumah makan terkenal yang menggunakan brand kupat tahu. Kita dapat menikmati kuliner ini setiap waktu tidak hanya sore atau malam saja.

Sesuai dengan namanya kupat tahu, bahan dasar makanan ini terdiri dari kupat (ketupat) yang dipotong-potong kecil dicampur tahu juga dipotong seukuran potongan ketupat. Selain itu ditambah irisan daun kol dan timun serta krupuk. Kemudian disiram bumbu kacang yang dikombinasikan dengan kecap ditaburi bawang goreng. Di daerah-daerah tertentu mungkin ada sedikit perbedaan dan variasi akan tetapi tetap tidak mengubah karakter dasar kuliner ini.

Mengenai rasa jangan ditanya, karena kupat tahu memiliki rasa khas yang nikmat dan segar. Bagi penggemar rasa pedas makanan ini dapat dijadikan ajang adu nyali tingkat kepedasan. Kupat tahu termasuk makanan sehat rendah kolesterol karena bahan dasar sayuranya mentah dan segar. Siapa yang belum pernah mencoba kuliner yang satu ini sungguh teramat rugi. Cobalah sekali dijamin ingin mengulangi berkali-kali.

RUJAK ULEG



Rujak uleg adalah kuliner asli warga Banyumas juga bangsa Indonesia umumnya. Rujak uleg adalah makanan favorit terutama bagi kaum wanita. Apalagi wanita hamil yang sedang ngidam rujak menjadi menu yang sangat dirindukan. Tidak jarang seorang suami yang istrinya ngidam rujak harus berkeliling berbagai tempat mencari penjual rujak uleg yang sudah semakin langka.

Diebut rujak uleg karena cara membuatnya diuleg dengan alat yang disebut ciri dan munthu. Didaerah Banyumas dikenal dua macam rujak uleg yaitu rujak mentah dan rujang mateng. Keduanya sama proses pembuatanya dan bumbunya. Yang membedakan adalah rujak mentah berarti bahan dasarnya mentah alias tidak dimasak sedang rujak mateng berarti bahan dasarny sayur yang sudah dimasak alias mateng.

Rujak mentah yaitu rujak dengan bahan dasar buah yang diiris tipis lalu diuleg bersama bumbu rujak. Tidak semua buah cocok dibuat rujak. Biasanya buah yang bisa dibuat rujak adalah timun, bengkoang, ubi jalar, nanas, mangga muda (pakel), kedondong, jambu air. Bisa dibayangkan rasa segar buah yang dicampur bumbu rujak dijamin bikin ngiler. Rujak buah ini lebih bersifat camilan atau hidangan cuci mulut.

Rujak mateng berarti bahan dasarnya sayuran yang sudah direbus atau dikukus yang dipotong kemudian diuleg bersama bumbu rujak. Pada rujak mateng biasanya ditambah ketupat, tahu goreng yang dipotong sedang ditambah krupuk atau mireng. Rujak sayur yang lengkap dengan ketupat dan tahu dan mireng disebut rujak kupat. Rujak kupat ini bisa dikatakan menu  makan karena terdiri ketupat sebagai pengganti nasi dengan lauk tahu, krupuk dan sayur.

Cara membuat rujak uleg sangat sederhana. Alatnya hanya ciri, munthu, pisau. Ciri adalah tempat menguleg yang dibuat dari batu dibentuk pipih layaknya sebuah piring tebal. Munthu adalah alat untuk menguleg atau menggerus yang juga terbuat dari batu gunung yang keras yang dibentuk agak memanjang sebagai pegangan. Pisau digunakan untuk mengiris buah atau sayur.

Cara membuatnya, bumbu ditaruh di ciri yaitu cabai sesuai selera, garam secukupnya, bawang sedikit, kencur sedikit, trasi sedikit, kacang tanah yang sudah digoreng dan gula jawa secukupnya. Semua bahan tersebut diuleg sampai lembut kemudian tambahkan air asam agar bumbu tidak terlalu padat dan mudah bercampur dengan bahan rujak. Setelah bumbu rujak siap tinggal masukan irisan buah atau sayur dan diuleg secara pelahan agar bumbu dan rujak bercampur secara merata. Letakan rujak dalam piring dialasi daun pisang. Rujak siap dinikmati.

Selasa, 02 Juni 2020

TUMPENG



Tumpeng berasal dari sebuah singkatan ‘yen metu kudu mempeng’ yang memiliki arti tersendiri. Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, ‘yen metu kudu mempeng’ berarti ‘ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat.’
Tumpeng sering dijadikan hidangan seremonial dalam suatu perayaan yang memiliki makna ucapan syukur ataupun kebahagiaan. Sebab, makna tumpeng sendiri adalah baik, yakni ketika terlahir manusia harus menjalani kehidupan di jalan Tuhan dengan semangat, yakin, fokus, dan tidak mudah putus asa. Pada awalnya tumpeng berbentuk kerucut, namun seiring perkembangan jaman bentuknya sesuai moment yang diadakan ada yang bulat, bentuk hati, bentuk rumah, mobil dan lainya sesuai hajat orang yang mengadakan syukuran.

Umumnya, proses pemotongan  nasi tumpeng diawali dengan menguraikan terlebih dahulu makna perayaan dari pemotongan tumpeng, berdoa ucapan syukur, selanjutnya nasi tumpeng dipotong dan diserahkan untuk orang yang dihormati sebagai wujud penghormatan, barulah setelah itu nasi tumpeng disantap bersama-sama.
Ternyata dalam penyajian nasi tumpeng biasanya dilengkapi dengan 7 macam lauk-pauk. 7 dalam bahasa Jawa berarti pitu. Angka pitu berarti pitulungan (pertolongan).  Makna dari 7 macam lauk-pauk yang biasa disajikan dalam tumpeng:
1. Nasi putih
Dahulu, nasi tumpeng biasanya dibuat dari nasi putih. Meski saat ini tumpeng sudah memiliki variasi tertentu, mulai dari nasi uduk hingga nasi kuning. Nasi putih  melambangkan sesuatu yang kita makan harusnya berasal dari sumber yang bersih dan halal.
2. Ayam
Ayam yang biasa digunakan pada nasi tumpeng adalah ayam jantan atau ayam jago. Pemilihan ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago, seperti sombong, congkak, selalu menyela ketika berbicara, dan selalu merasa benar sendiri.
3. Ikan Lele
Tak hanya ayam, sebenarnya nasi tumpeng juga dilengkapi dengan ikan lele, namun banyak orang  mengganti  jenis ikan lain, karena bentuk ikan lele yang kurang begitu menarik. Ikan lele menjadi simbol dari ketabahan dan keuletan dalam hidup. Sebab ikan lele mampu bertahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai.
4. Ikan teri
Ikan teri juga biasa disajikan dalam hidangan nasi tumpeng. Ikan teri dalam nasi tumpeng memiliki makna kebersamaan dan kerukunan, sebab ikan teri selalu hidup bergerombol di dalam laut.
 5. Telur
Telur juga menjadi perlambang jika manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Telur yang digunakan adalah telur rebus  dipindang dan disajikan dengan kulitnya. Untuk memakannya harus mengupas terlebih dahulu. Hal ini melambangkan, bahwa semua tindakan harus direncanakan terlebih dahulu (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

6. Sayur Urab
Selain lauk pauk, pelengkap lainnya yang tidak boleh tertinggal adalah sayur urab atau kluban dalam bahasa Banyumas. Biasanya terdiri dari kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, dengan bumbu urab yang terbuat dari sambal parutan kelapa.
Sayuran ini melambangkan banyak makna, Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindungi. Bayam dapat diartikan dengan ayem tentrem. Taoge atau kecambah berarti tumbuh. Kacang panjang dapat diartikan sebagai pemikiran yang jauh ke depan. Sedangkan bawang merah diartikan mempertimbangan segala sesuatu dengan matang baik buruknya. Dan yang terakhir adalah bumbu urap berarti urip atau hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga
7. Cabe Merah
Hiasan cabe merah yang berbentuk kelopak bunga ini biasanya diletakkan di bagian atas nasi tumpeng. Hiasan cabe ini melembangkan api yang memberikan penerangan yang bermanfaat bagi orang lain.

Begitulah cara orang jaman dulu memberikan pelajaran yaitu dengan symbol-simbol. Metode ini adalah metode dakwah yang paling tepat saat itu. Saat ini tumpeng hanya sebagai seremonial pada perayaan tertentu dengan bentuk yang sudah bervariasi dan lauknyapun sesuai dengan jaman kekinian. Bahkan tumpeng sudah tergantikan dengan kue tart dengan bentuk dan variasi yang lebih canggih.



Minggu, 31 Mei 2020

TAKIRAN



Bagi kalangan Baby boomer dan generasi X (yang lahir sebelum tahun 1980) cukup familiar dengan istilah ini bahkan merindukan kembali acara ini  sebagai kenangan indah masa kecil. Untuk generasi yang lahir setelah tahun 80 an mungkin hanya sebagian kecil yang mengalami takiran. Mereka mungkin  menganggap takiran sebagai acara yang kuno dan tidak cocok untuk masa sekarang sehingga tak perlu dikenang.

Takiran adalah acara makan bersama suatu kelompok lingkungan masyarakat dimana masing-masing anggota masyarakat menyediakan makanan dibungkus daun pisang, dikumpulkan dan saling bertukar. Acara ini dilaksanakan pada peringatan Maulid Nabi, Isra Mi’raj, 10 Muharam, Tarawih (likuran) atau perhelatan keagamaan  yang lain. Makanan dibungkus daun pisang ini sebenarnya ada 3 model cara membungkusnya yaitu ditum, pincuk dan takir namun acara makan bersama ini diberi nama takiran.

Pada masa itu walaupun masyarakat belum makmur artinya makan masih sederhana, namun untuk takiran mereka tidak akan sembrono. Mereka akan membuat lauk yang istimewa dengan menyembelih ayam atau mengambil ikan dikolam. Mereka berprinsip memberi kepada orang lain adalah harus istimewa bukan memberi yang jelek dapat yang baik. Ketika pembagian takir apapun yang diterima mereka sangat senang dan tidak pernah berfikir dia membawa apa dapat apa. Disinilah makna kerukunan dalam masyarakat tergambar dengan nyata.

Secara etimologis kata takir sendiri berasal dari "nata" karo "mikir" (menata dan berpikir) yang bermakna bahwa dalam kehidupan senantiasa harus mempertimbangkan dan menata setiap langkah yang diambil dengan pemikiran tenang, seksama, mendalam dan berhati-hati agar mendapatkan hasil yang terbaik. Memberi kepada orang lain harus yang terbaik sedangkan apapun yang kita terima itulah rizqi kita.
Acara takiran makan bersama ini dilaksanakan diakhir kegiatan setelah semua  selesai. Ibu-ibu dan remaja putri membagikan takir pada seluruh peserta tanpa terkecuali. Acara ini sangat  ditunggu-tungu oleh anak-anak jaman itu. Pada saat pembagian takir semua  hati brdebar-debar menebak lauk apa yang akan diterima. Ketika takir sudah diterima anak-anak akan langsung menyobek tutup bagian atas takir  untuk mengintip apa isi lauknya. Masing-masing akan memamerkan lauk yang didapat dan memakanya dengan lahap setelah dipimpin berdoa. Lauk takiran sudah pasti lebih istimewa dari makanan yang mereka makan sehari-hari.


Acara takiran ini salah satu potret kerukunan masyarakat kita pada masa itu. Mereka masih merasa bersaudara dan saling membutuhkan, memberi dengan tulus, menerima dengan ikhlas. Hati mereka belum terkontaminasi dengan materi duniawi. Memberi yang terbaik merupakan kepuassan tersendiri bagi masyarakat kala itu.

Saat ini acara takiran sudah bergeser menjadi prasmanan dimana semua makanan diseragamkan untuk menghindari ketidakseimbangan yang kaya dengan yang miskin. Terkadang anggota tinggal membayar iuran nanti ada memasak dan pembagianya menggunakan piring, dus kotak atau sterofom. Disamping sudah sulit mencari daun pisang juga lebih praktis dan banyak tersedia diwarung-warung.

Mau tidak mau kita tetap harus mengakui bahwa makanan yang dibungkus dengan daun pisang aroma dan rasanya lebih nikmat dibanding bungkus kertas atau sterofom. Perubahan social akan terus berjalan seiring dengan perkembangan  peradaban manusia. Kita tidak harus kembali ke masa lalu tapi kita harus belajar dari masa lalu untuk bertindak dimasa sekarang dan mempersiapkan masa depan. Tradisi takiran mungkin boleh saja menghilang tapi semangat kebersamaan, kerukunan dan keikhlasan tidak boleh luntur dari jiwa kita.


Ajibarang, 9 Syawal 1441 H
Silaturahmi digital lewat goresan.

Kamis, 28 Mei 2020

MENDHOAN DI TENGAH HUTAN JATI


Mendung menggelayut dilangit pagi  ketiga Iedul Fitri. Kebijakan  PSBB menciptakan suasana lengang jalanan beraspal yang aku lewati. Kutelusuri jalan sambil menunggu munculnya sang mentari memberi kehangatan permukaan bumi. Kupacu motorku pelahan sambil menikmati panorama disamping kanan kiri. Kuhirup udara pagi sebagai kompensasi berdiam dirumah berhari-hari.

Pagi ini rute perjalananku adalah Ajibarang – Wangon – Jeruklegi. Aku ingin melihat sendiri suasana Idul fitri ditengah situasi pendemi. Sampai sejauh mana msyarakat kita mampu menahan diri untuk tidak pergi. Aku merasakan sendiri jalanan terasa sangat sepi walaupun ada beberapa kendaraan pengangkut barang dan kendaraan pribadi. Angkutan penumpang hampir tidak ada sama sekali. Jalan serasa milik sendiri sehingga bisa berakting seperti Valentine Rossi.

Diperempatan Wangon aku sempatkan berhenti. Kuamati suasana kota begitu sepi tak seperti suasana sehari-hari. Kupacu motorku kembali kearah selatan menuju Jeruklegi. Jalan yang sepi kunikmati dengan senandung bahagia dihati. Sesekali aku berhenti sekedar untuk berfoto selfie. Mengabadikan setiap moment dalam perjalanan kali ini.

Sampai pertigaan Jeruklegi kubelokan motorku kekanan dengan hati-hati. Kususuri jalanan yang mulai berliku dan mendaki. Jalanan terlihat basah pertanda gerimis baru saja berhenti. Perjalanan semakin menawan hati melewati deretan hutan jati disisi kanan dan kiri.

Jika bukan masa pendemi jalan ini padat sekali. Jalur selatan sangat diminati pengendara jalur Jakarta – Bandung – Cilacap – Yogyakarta karena kondisi  jalanya bagus dan sepi. Apalagi pemandangan indah dan sejuk  sepanjang hutan jati. Banyak tempat berhenti untuk istirahat dan minum kopi ditengah hutan jati semakin membuat suasana tambah asri.

Aku berhenti untuk menepi kesebuah warung yang terletak disisi kiri. Kuparkir motorku segera kupesan segelas kopi. Kuambil mendhoan yang masih panas yang teredia diatas baki. Kunikmati panasnya mendhoan selagi belum datang segelas kopi. Mendhoan panas dan segelas kopi ditengah hutan jati perpaduan kuliner yang penuh sensasi.  Kuhirup kopi pelahan sambil meresapi nikmat aroma dan rasa yang membangkitkan  inspirasi.

Kulihat sekeliling warung yang bersih dan tertata rapi. Bangunan warung sederhana dari bambu ini berjarak  sekitar 6 meter dari tepi jalan sehingga area parkir cukup memadai. Ada satu meja panjang dengan bangku bambu panjang muat 6 orang  disisi kanan kiri  . Disebelah samping dan belakang ada gubuk lagi  model panggung beralaskan tikar dengan meja-meja pendek tanpa kursi untuk yang lebih suka lesehan.

Makanan dan minuman kemasan di meja berbentuk leter L didalamnya terdapat perabot dapur untuk memasak dan menyajikan makanan serta minuman. Ada ketupat, tempe yang siap digoreng sehingga kita selalu menikmatinya dalam keadaan panas, makanan ringan dan macam-macam mie instan . Untuk minumanpun tersedia minuman  seperti  teh, kopi, susu, jahe. Dibagian depan warung bertumpuk kelapa muda yang siap kupas dan dinikmati kesegaranya.

Pagi ini aku adalah pembeli pertamanya. Sambil mmenikmati mendoan dan dan kopi aku ngobrol dengan pemilik warung.

“ Bagaimana suasana lebaran tahun ini Bu ?” tanyaku memulai obrolan.
“ Wah jauh sekali mas, turun 80% dari biasanya.” jawabnya antusias.
“Patokanya apa Bu?” kejarku penasaran.
“ Biasanya kalau lebaran saya bisa menghabiskan seribu butir kelapa muda. Sekarang sampai hari ketiga lebaran ini baru tigapuluh butir. Sehari paling banyak 11 butir.” jawabnya.

Aku diam sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. Ternyata pendemi covid 19 ini membuat ekonomi terpuruk luar biasa. Jalanan yang biasanya ramai banyak orang yang mampir kewarung sekarang sepi. Aku masih bersyukur sebagai guru honorer betapapun gajiku tidak seberapa tapi saat pendemi ini aku masih menikmati gaji tiap bulan. Akubisa melakukan traveling mendengarkan curhat ibu warung yang ekonominya terdampak covid 19.  Nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan.

Tak lama kemudian sebuah mobil sedan berhenti dan parker di depan warung. Ketika pintu terbuka turun suami istri dengan dua anak remaja sepertinya sebuah keluarga muda. Ibu wrung tersenyum cerah menyambut rizqi yang datang pagi ini. Aku berdiri membayar segelas teh dengan dua lembar mendhoan ukuran jumbo hanya Rp 10.000.

“ Trimakasih mas njenengan pembeli pertama yang nglarisi warung saya.” katanya dengan nada yang kurasakan sangat  tulus. 
“Semoga hari ini rizqi ibu melimpah dan berkah.” kataku sambil keluar warung menuju motorku.
“Aamiin.” jawabnya semangat dengan penuh rasa optimis.

Rabu, 27 Mei 2020

TELAGA KUMPE



Telaga Kumpe adalah sebuah telaga kecil dikaki gunung Slamet yang indah. Lokasinya dilereng selatan gunung Slamet diantara dua lokawisata yaitu curug Cipendok dan Baturaden. Awalnya teaga tertutup tanaman air sehingg permukaanya tidak kelihatan. Ketika sector pariwisata digalakan maka mulailah telaga Kumpe ditata ulang sehingga kecantikanya terlihat.
Jika kita hendak mengunjungi telaga Kumpe sarana transportasi jalan beraspal sudah bagus bisa dilewati kendaraan roda dua maupun empat. Jika menggunakan kendaraan pastikan kondisi mesin mobil dalam keadaan fit termasuk kondisi remnya. Kondisi jalan yang menanjak dan berkelok cukup memacu adrenalin. Tapi jangan kawatir karena sepanjang perjalanan kanan kirinya adalah hutan cemara yang indah dan sejuk.
Jalur yang bisa ditempuh jika dari arah kota Purwokerto kearah barat sampai jembatan sungai logawa dan mengaji belok kanan terus sampai desa Gununglurah lurus sampai desa Sambirata belok kanan naik keatas sampai lokasi. Bisa juga Purwokerto kebarat melewati kota  Cilongok  sampai pertigaan pondok Modern Zam-zam belok kanan sampai desa Panembangan terus naik sampai desa Sambirata. Jika dari  Ajibarang kearah  timur sampai pertigaan Losari belok kiri terus sampai jembatan kereta api belok kanan ke desa Panembangan kemudian belok kiri kearah desa Sambirata naik sampe ke telaga Kumpe

Perjalanan menuju lokasi memang cukup memacu adrenalin, tapi setelah sampai disana semuanya terbayar lunas. Keindahan telaga Kumpe dengan alam sekitarnya yang masih asri dengan udara yang sejuk mampu menghilangkan kelelahan selama perjalanan. Pengunjung bias bersantai ditepi telaga atau memancing ditelaga yang airnya sangat jernih. Diediakan juga kafe-kafe artistic dengan kuliner khas banyumas seperti mendoan,tahu kalisari dan cimplung. Banyak juga spot-spot berfoto dengan background telaga.

Bagi yang hobby camping dan hiking juga tersedia lokasi yang menarik dengan sarana yang dibutuhkan. Hutan pinus yang mengelilingi telaga dan perbukitan yang masih asri menjadi pesona tersendiri. Untuk yang ingin berkeliling telaga lewat air telah disediakan perahu dan sepeda air.  Telaga Kumpe merupakan deretan lokawisata sepanjang lereng selatan gunung Slamet. Setelah mengunjungi telaga Kumpe bisa menuju Curug Cipendok, Ger Manggis, Taman Panginyongan, Taman Teletubies. Sempatkan berwisata di Banyumas Barat wilayah kecamatan Cilongok. Nikmati keindahan alamnya, keramahan penduduknya, kulinernya,